Jumat, 10 Juni 2011

Nenek kreatif

Saat pemulangan jama'ah haji Mesir di International Air Port Cairo, seorang nenek-nenek ditanya oleh petugas imigrasi:
Petugas : Nek, apakah nenek membawa barang-barang yang dikenai pajak?
Nenek   : Barang seperti apa yang kena pajak itu, nak?
Petugas : Ya seperti barang elektronik dan barang-barang mewah lainnya.
Nenek   :  Yabni...Saya ini sudah tua. Masak sih tega menyangka saya membawa barang-barang yang seperti itu.
Petugas : Maaf, Nek. Karena ini sudah menjadi peraturan, maka saya harus memeriksa barang bawaan nenek.
Lalu petugas itupun memeriksa satu persatu tas yang dibawa oleh si nenek. Tiba-tiba si petugas menemukan video player di tas si nenek.
Petugas : Lho, nek, ini apa? Ini video, dan barang ini akan dikenai pajak.
Nenek   : Anak muda, saya ini sudah tua. Saya sengaja membawa video itu untuk menyetel khutbah Syekh Sya'rowi.
Karena jawabannya masuk akal, lalu si petugas pun memaafkan si nenek.
Kemudian petugas itu menlanjutkan pemeriksaannya.
Tiba-tiba ia menemukan sebuah radio merk Sony.
Petugas : Nek, ini barang elektronik juga dan ini harus kena pajak.
Nenek   : Anakku, saya ini sudah tua. Sengaja saya membawa radio untuk mendengarkan pengajian setiap subuh dari radio.
Lalu petugas itupun kembali memaafkan si nenek dan melanjutkan pemeriksaannya.
Pada tas ang terakhir, si petugas berteriak kaget, seakan tidak percaya, karena ia menemukan sebotol minuman keras.
Petugas : Nek, ini minuman keras! Ini haram! Bukankah nenek baru pulang dari tanah suci? Mengapa nenek membawa minuman keras?!
Nenek   : Anak muda, saya ini sudah tua karena sudah tua maka saya tidak bisa untuk tawaf tujuh kali mengelilingi ka'bah. Maka dari itu, saya membeli minuman keras. Dari pada saya yang cape mengelilingi ka'bah, mendingan ka'bah yang mengelilingi saya.
Petugas : ???

Perawat

Dua Orang Perawat 'nakal' sedang bertugas piket menunggu pasien
laki-laki yang sudah dalam keadaan kritis.
Perawat I : " Sudah melihat anunya pasien yang kritis belum ? "
Perawat II : " Sudah, tapi biasa aja tuch. Soalnya ketika saya periksa,
hanya ada tatto bertuliskan " MINI ". waktu itu anunya memang tidak
tegang"
Perawat I : " Waaahhhh.... rugi kamu ! ! ! ! soalnya,ternyata ketika agak
sadar, dan saya sempat menjenguknya, dan saya buka selimutnya,
tulisan itu bukan hanya " MINI " saja, melainkan "PENGUSAHA
ANGKUTAN TAMAN MINI "

Main Tebakan

Pada waktu keluar malam minggu, Voni dan Joni duduk ngobrol di sebuah taman.

Novi     : "Hei Joni, ada tebakan nih, tolong jawab pertanyaannya... Kalau ada
5 ekor burung di jendela, kemudian ditembak satu, berapa yang masih tertinggal?"
Joni     : "tinggal 4 ekor, gampang sekali tebakannya!"
Novi     : "Salah, habis dong burungnya, kan lainnya pada terbang, tapi saya suka
dengan cara berpikirmu yang lurus"

Joni berbalik bertanya,
Joni     : "Novi, kalo ada tiga orang  cewek, masing-masing membawa es krim, cewek
pertama makan es krim dengan menggenggam batangnya dan mencium2nya, yang kedua dengan
menjilatinya, yang ketiga mengulumnya langsung ke dalam mulutnya, manakah diantara
cewek itu yang sudah menikah?"
Novi     : "Hahhh... pasti yang mengulum langsung kan?"
Joni     : "Salah... yang sudah menikah adalah yang memakai cincin di jari manisnya,
           tapi saya senang dengan cara berpikirmu yang langsung Nov..."

Sabtu, 28 Mei 2011

Pelana Indian

Christine, seorang sekretaris cantik dari Michigan, sedang dalam
perjalanannya yang pertama menyeberangi Amerika.
Di sebuah gurun, ia terpaksa berhenti karena mobilnya kehabisan bensin.
Seorang Indian memberinya tumpangan dengan membonceng kuda.
Selama perjalanan, setiap beberapa menit si Indian berteriak "Yah-hoo"
dengan kerasnya hingga gaungnya terdengar di seluruh gurun.
Akhirnya, Marlene turun di sebuah pomba bensin dan si Indian berlalu
sambil meneriakkan,"Yah-hoo!"nya yang terakhir.
Kau apakan sikulit merah tadi." tanya pemilik pompa.
"Sampai ia berteriak-teriak seperti itu?"
"Tidak kuapa-apakan"sahut Christine."Aku hanya duduk diam-diam di
belakang. Kulingkarkan tanganku di sekeliling pinggangnya sambil
berpegang erat-erat pada tanduk pelananya".
"Nona," kata orang itu, "Orang Indian menunggang kuda tanpa pelana!!!"

Nyawa atau nyaman

Di sebuah desa ada seorang janda yang kaya, tanpa anak dan
penampilannya juga menggairahkan tiap pemuda yang melihatnya,
dilain waktu ada seorang pemuda yang kerjanya merampok, dan
timbul dalam benaknya untuk merampok di rumah sijanda yang kaya
tersebut. Alhasil si pemuda berhasil masuk rumah sijanda lewat atap
dan kebetulan ada di kamar si janda. Dan pada saat itu si janda lagi
tidur tengkurap tanpa busana. muncullah niat yang lain bagi sipemuda
kemudian dia menyelinap ke bawah tempat tidur si janda, dan bukan
main kagetnya si janda karena ada gelas dibawah t4 tidur yang kesenggol
si pemuda akhirnya sijanda terbangun langsung saja si perampok menarik
golok dan mengancam si janda "jangan berteriak, NYAWA ATAU NYAMAN"
setengah menggertak, sijanda ketakutan dan dengan nada lemas
menjawab " NYAMAN AJA MAS" setelah hal tersebut terjadi .... si perampok
hendak pulang karena merasa puas tapi pada saat hendak memakai
pakaiannya golok tertinggal di samping si janda dan sijanda langsung
mengambil dan balik mengancam "mau kemana?" "Pulang" jawab
Pemuda si janda membentak "MAU PULANG ATAU ULANG"

Nggak Sopan

Seorang perempuan berusaha untuk menaiki sebuah bis. Roknya
yang ketat menghambat kakinya untuk naik ke dalam bis. Karena
itu dia tarik sedikit resleting roknya ke bawah agar untuk memberi
ruang pada kakinya ketika diangkat mau menaiki bis.
Ketika kakinya masih belum bisa naik, sekalu lagi tangannya ke
belakang  dan menarik sedikit lagi resletingnya. Masih juga terasa
ketat, untuk ketiga kalinya tangannya ke belakang menarik resleting
ke bawah.
Perempuan tersebut akan mengulanginya untuk yang keempat kalinya
ketika tiba-tiba sepasang tangan mengangkat pantatnya dan menaikkan
-nya ke dalam bis. Tentu saja dia berang. "Apa-apaan sih. Nggak sopan
amat."
 "Lho nggak sopan mana sama menarik resleting celanaku sampai tiga
kali," jawab lelaki di belakangnya.

Kamis, 26 Mei 2011

Matematika Kehidupan

Laki-laki pintar + Wanita Pintar   = Romansa
Laki-laki pintar + Wanita Bodoh    = Hamil
Laki-laki bodoh  + Wanita pintar   = Affair
Laki-laki bodoh  + Wanita bodoh    = Pernikahan

Boss pintar      + Karyawan pintar = Laba
Boss pintar      + Karyawan bodoh  = Produksi
Boss bodoh       + Karyawan pintar = Promosi
Boss bodoh       + Karyawan bodoh  = Jam lembur

Lelaki membayar Rp 2000 untuk barang seharga Rp 1000 yang ia butuhkan
Wanita membayar Rp 1000 untuk barang seharga Rp 2000 yang tidak ia
  butuhkan

Wanita khawatir tentang masa depan sampai ia mendapatkan seorang suami
Lelaki tak pernah khawatir tentang masa depan sampai ia mendapatkan
  seorang istri

Lelaki sukses ialah yang menghasilkan lebih banyak uang daripada yang
  dapat ditabung istrinya           
Wanita sukses ialah yang mendapatkan lelaki semacam itu

Untuk berbahagia dengan seorang lelaki, kau harus mengerti banyak
  tentangnya dan mencintai sedikit saja
Untuk bahagia dengan seorang wanita, kau harus sangat mencintainya,
  dan tak perlu berusaha mengertinya sama sekali

Wanita menikahi seorang pria berharap si lelaki dapat berubah, tapi
  dia nyatanya tidak juga berubah               
Lelaki menikahi seorang wanita berharap si wanita tidak berubah, tapi
  nyatanya dia justru berubah

Elo Itu Maunya Apa?

Alkisah ada seorang kaya raya sedang
mengadakan pesta di rumahnya di kawasan Menteng.
Kayanya orang ini nggak kira-kira, duitnya bejibun,
belon rumahnya di Menteng ama di Pondok Indah, punya
banyak simpanan cewek, abis itu dia juga punya helikopter
ama pesawat terbang. Pokoknya semuanya deh. Orangnya
rada nyentrik. Kolam renangnya diisi banyak buaya.
Lagi pada pesta di pinggir kolam, si doi berdiri di atas
menara life guard supaya temen-temennya bisa ngeliat.
Terus dia suruh semuanya tenang dan berkata "Baiklah,
orang pertama yang berani renang di kolam ini dari ujung
ke ujung bakalan gue kasih semua duit gue."
Semua pada diem. Si kaya ngeliat ke temen-tememnya
dengan gemes lalu berkata "OK, orang pertama yang
berani renang di kolam ini dari ujung ke ujung, gue kasih
semua duit gue plus rumah gue." Tetap nggak ada juga
yang bereaksi. "OK, kalau gitu semua duit gue, rumah,
mobil-mobil, pesawat terbang, semua milik gue, saham,
surat berharga dan semua cewek gue, pokoke semua
yang gue miliki." SPLASH!!! Ada yang terjun!
Buaya-buaya pada ngerubutin tapi dia berkelit aje kayak
Tarzan. Berkelit ke sono-sini, berkelahi juge dengan buaya
itu. Akhirnya nyampe juga di seberang. Si kaya turun dari
life guard tower lalu berlari ke orang itu.
Kaya: "Gile lu! Hebat bener, gua nggak nyangka kalo ada
yang berani ...melakukannya. Elu mau duitnya sekarang?"
Nekad: "Nggak! gue nggak mau duit!"
Kaya: "Elu mau rumahnya sekarang?"
Nekad: "Nggak! gue nggak mau rumahnya"
Kaya: "Elu mau mobil ama pesawatnya sekarang atau ntar?"
Nekad: "Nggak! gue juga nggak mau pesawat"
Kaya: "Elu minta saham atau surat berharga?"
Nekad: "Nggak! gue nggak mau"
Kaya: "Elu minta cewek gue?"
Nekad: "Nggak gue juge nggak mau itu"
Kaya: "Habis, elu itu maunya apa?????"
Nekad: "Gue mau tahu siapa bajingan yang dorong gue tadi!"

Umur panjang

Orang Rusia terkenal dengan umur panjang. Seorang tourist bertanya
dengan orang Rusia yg pertama dia jumpa, "Berapa umur anda ?"
"Empat puluh", jawabnya.
"Wah, tampaknya anda seperti masih berumur dua puluh lima. Apa
rahasianya ?". "Pagi makan sayur, siang sayur dan malam juga sayur".
Kemudian tourist tadi bertanya sama orang kedua yg dijumpai, "Berapa
umur anda ?" "Tujuh puluh", jawabnya.
"Anda tampak seperti masih empat puluh, apa rahasianya ?".
"Pagi makan buah, siang buah dan malam juga buah".
Terakhir ia berjumpa dengan orang yg tampaknya berumur delapan puluh
tahun. Ia berpikir orang ini pasti umurnya lebih dari seratus tahun.
Jadi ia langsung bertanya mengenai rahasianya.
"Apa rahasianya anda bisa tampak seperti ini ?"
"Pagi wanita, siang wanita dan malam wanita", jawabnya.
"Jadi berapa umur anda sekarang ?".
"Empat puluh dua tahun".

Warisan

Baru-baru ini telah terjadi turun tahtanya kepala negara setelah
digulingkan oleh rakyatnya karena ulahnya sendiri lalim dan sarat
KKN, dari anak sampai cucu semua kebingungan, karena  harta
benda selama menjabat semuanya disita.
Si cucu yang terkenal cukup pandai, minta kepada kakeknya sebuah
foto yang besar. Setelah sekian lama, masa-masa sulit menimpa
saudara-saudaranya (paman dan bibinya) karena tidak adanya
kekayaan yang ditinggalkan bapaknya, sedangkan cucunya tetap
mapan kehidupan ekonominya.
Saudara-saudaranya keheranan pada keponakannya ini dan bertanya:
"kenapa  kamu tetap bisa mapan?"
 jawabnya "aku taruh itu Foto kakek di pusat keramaian dan aku tarik
ongkos untuk melempar bola, tiga bola seribu rupiah.".

Bulan Atau Matahari

Pada suatu hari tersebutlah dua orang mabuk yang sedang ngobrol
bersama temannya yang juga sedang mabuk.
Mabuk1 : Mabuk2 mau tanya nih sekarang siang apa malam yah
Mabuk2 : liat aja diatas bulan apa matahari
Mabuk1 : saya pikir sih itu bulan ...
Mabuk2 : bukan itu bukan bulan tapi matahari
Mabuk1 : ah bulan
Mabuk2 : ah Matahari
Mabuk1 : Gini aja deh khan kita lagi mabuk jadi kita tanya saja nanti
sama orang yang lewat gimana ...
Mabuk2 : ok setuju ...
Tak lama kemudian datanglah seorang pejalan kaki yang melintas
didepan kedua orang mabuk tsb.
Mabuk1 : Mas, numpang nanya nih menurut mas diatas itu bulan apa
matahari yah
Jawab pejalan kaki : eh ... eh ... saya kurang tau yah, saya orang baru
disini...

Pesan Untuk Para Hakim

Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab", la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.

Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu
Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang
sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
 <br/><br/>
Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur
jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan
Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara
memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka
Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.
<br/><br/>
Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.
Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong
batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang
pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya.
Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.
<br/><br/>
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup
banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia
mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita. Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh
bapaknya.
<br/><br/>
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang
menemui Abu Nawas.
 <br/>
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir
utusan Sultan.
 <br/>
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu
Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
 <br/>
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
 <br/>
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan
di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan
sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
<br/>
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir
 <br/>
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu
Nawas.
 <br/>
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
<br/><br/>
"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas
sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.
Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan
keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu
Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia
kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."
 <br/><br/>
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu
Nawas di hadirkan di hadapan raja.
<br/>
Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya
ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
 <br/>
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada
para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"
<br/><br/>
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli
tentara yang bertubuh kekar. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang
kota, ia dicegat oleh penjaga.
 <br/>
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah
mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi
hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian,
aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah
Baginda yang diberikan kepada tadi?"
"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan
sudah sering menerima hadiah dari Baginda."
Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar
lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu
menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu
saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.
Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan
Harun Al Rasyid.

"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari
mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima
kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah
Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau
telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali
pukulan?"
Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah
sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang
itu?" tanya Baginda.
"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah
mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka
hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya.
Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya
berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian
seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."
"Hahahahaha IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut
Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga
pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras
orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan
memecat dan menghukum kamu!"

"Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.
Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba
diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon
ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan
Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia
tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas."
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong
uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan
semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.
Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para
menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai
kadi?"
Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang
semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja
menjadi kadi."
Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru
saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain
saja."

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al
Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak
lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda
untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan
dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda
menyetujuinya.
Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan
syukur kepada Tuhan.
"Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang
lain saja."
Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia
panggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati
bapaknya yang sudah lemah lunglai.
Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah
telinga kanan dan telinga kiriku."
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga
kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau
sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!"

"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau
harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."
Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan
masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang
seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah
resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan
mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka
buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan
Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap
memilihmu sebagai Kadi."
Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk
menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau
penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu
perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak
konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali
dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda
Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Mohon Ampunan

Ada 3 orang anggota DPR yang terkena berbagai macam kasus, sebut saja Agung, Bagio, dan Tanto. Mereka berada di tiga tempat berbeda, di malam hari mereka pun masing-masing khusyuk berdoa, demi keselamatan bangsa dan kesejahteraan SDM di jajarannya.

Agung pun berdoa, "Ya Allah mohon ampun, hambaMu sujud minta wejangan apa yang harus hamba lakukan untuk kelancaran pekerjaan kami menyerap aspirasi rakyat Indonesia?" Sejenak ruangan sunyi, namun tiba-tiba muncul senoktah cahaya yang menerobos dekat jendela.

Dan terdengarlah suara bernada datar, mengalir perlahan dengan syahdunya, "Wahai umatku yang kusayangi, Agung yang bijaksana. Sungguh mulia kalian diberi kepercayaan menjadi wakil rakyat. Namun sungguh durhaka, kepercayaan itu, kalian jadikan peluang untuk meraup untung. Agung!!...Jangan mengaku wakil rakyat, bila ruang sidang tidak bersih dari pikiran maksiat, dan ambisi material." Agung pun menangis dan sujud mohon ampun.

Sementara di tempat lain, di sebuah ruangan yang temaram, tampak sesosok umat sedang menyembah dan bersujud berharap mujikzat.
Bagio pun berserah, "Ya Allah tunjukkan jalanMu. Dan berilah hambaMu ini jalan keluar, agar jajaranku ini tidak terperosok di lembah hitam kemarukan, dan keserakahan menimbun harta dan uang..."

Tiba-tiba senoktah cahaya, seperti garis putih dari langit menerobos pilar teras, sampai ke ruangan doa.

Dan suara itu pun bergema, "Wahai umatku yang kukasihi, wahai Bagio...Siramlah anak buahmu dengan cahaya iman tiap hari. Mengapa tiap hari? Karena yakinlah dosa sogok di jajaran kamu, sudah mengakar seperti pohon beringin tua diseberang jalan itu."

Tertegunlah Bagio. Dia loyo dan ia pun menangis tersedu-sedu memohon ampunan.

Di malam itu juga, ketika cakrawala hitam kelam. Di atas sana, cahaya rembulan menembus dingin cemara di halaman rumah itu. Tanto itu pun berserah, mengulurkan tangan memohon ridho Allah.

Tanto pun berbincang segenap hati, "Ya Allah, tolong umatMu yang berdosa ini yang sudah meraup banyak uang yang bukan dari hakku, berilah jalan terang untuk keharmonisan di jajaranku. Berikan jalan kepada hambaMu ini..."Belum selesai kata terakhir terucap, ruangan itu pun terang benderang dan menyilaukan sekali.

Lalu terdengarlah suara yang keras... "TANTO MENYERAHLAH..!!!" Tantopun terperangah, dan terkejut bahwa tanpa disadarinya serombongan polisi telah mengepungnya..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Get cash from your website. Sign up as affiliate.

Space Iklan

Masih ada ruang untuk pasang Iklan Banner